Categories
Uncategorized

Jelajah Wisata rangkas bitung dengan layanan mobil elf

Butuh layanan rental mobil elf murah Jakarta untuk wisata ke rangkas bitung ? ini dia info harga terkini yang ditawarkan oleh Kami. Bermacam tujuan wisata yang kamu mau bersama keluarga, sahabat ataupun juga rombongan dengan berbagai– berbagai opsi armada, hendak kami bantu siapkan.

nagatrans.com rental mobil elf jakarta murah

Saat sebelum memutuskan buat memakai layanan jasa Rental Elf Rangkasbitung, kami sarankan buat menekuni harga yang ditawarkan terlebih dulu ya. Perihal ini diperlukan buat menghitung ditaksir total bayaran buat menyewa armada Elf supaya dapat disesuaikan dengan budget yang telah disiapkan.

Kami sediakan bermacam- macam armada Elf terkini dengan peforma besar. Seluruh armada yang kami pakai merupakan keluaran terkini. Sehingga ekspedisi kamu kami yakinkan hendak mudah serta mengasyikkan.

Objek Wisata di Rangkas Bitung

Istilah satu hari wisata di Rangkasbitung sesungguhnya tidak cocok sebab kami terletak di kota ini tidak sepanjang 24 jam, cuma 3 jam 40 menit ialah dari jam 11. 30 Wib hingga 15. 10 Wib. Tetapi tidak apalah, judul Wisata di Rangkasbitung Dalam Satu hari rasanya lebih lezat dibaca serta didengar.

Saat sebelum membaca lebih jauh, aku sarankan membaca tulisan Mengarah Rangkasbitung dari Bogor terlebih dulu. Tulisan bertajuk Wisata di Rangkasbitung Dalam Satu hari ini ialah kelanjutan dari tulisan tersebut.

Sasaran Wisata di Rangkasbitung

Terdapat sebagian posisi yang hendak kami datangi dikala wisata di Rangkasbitung ini. Douwes Dekker Huis ataupun rumah yang dahulu ditempati Multatuli merupakan tujuan awal. Rumah ini terletak di Jln. Rt Hardiwinangun Nomor. 5, Rangkasbitung. Dari stasiun ke posisi cuma memerlukan waktu 13 menit jalur kaki. Rumah tersebut masih terpelihara bagus. Terdapat papan nama yang sebagian terhalang tumbuhan bunga di dekat tiang tembok. Bukan Multatuli ataupun Eduard Douwes Dekker, tetapi nama seorang yang bisa jadi saat ini jadi penunggu ataupun owner rumah itu. Kami mengambil sebagian gambar namun cuma dari luar pagar.

Walaupun di Google Maps posisi itu diisyarati dengan nama Eduard Douwes Dekker, apakah memanglah rumah kuno yang asri itu betul tempat tinggalnya Multatuli? Dari sebagian data yang tersebar di internet, petilasan tempat tinggal Douwes Dekker nyatanya terdapat di balik RSUD Dokter. Adjidarmo Jln. Iko Jatmiko Nomor. 1, Muara Ciujung Barat, Rangkasbitung. Data ganda ini butuh ditelusuri lebih lanjut. Aku berencana kembali ke Rangkasbitung sesuatu dikala nanti buat mencari kejelasan tentang rumah Douwes Dekker itu.

Museum Multatuli serta Bibliotek Saidjah Adinda

Dari Douwes Dekker Huis ekspedisi dilanjutkan ke Museum Multatuli. Hanya perlu 3 menit jalur kaki. Sayangnya museum tutup. Cuma Senin hingga Jumat museum dibuka. Jam buka cocok jam kantor. Museum ini terletak di sisi timur alun- alun Rangkasbitung, berseberangan dengan Masjid Agung Angkatan laut(AL) A’ raaf. Sebab tidak dapat masuk, cuma bagian luar serta area dekat yang dapat dinikmati. Di sebelahnya ada Bibliotek Saidjah Adinda yang pula tutup pada Sabtu serta Minggu.

Berakhir dari museum setelah itu berjalan ke Masjid Agung Angkatan laut(AL) A’ raaf. Tidak hanya buat tempat ibadah, tidak terdapat yang istimewa buat dilihat sebab bukan bangunan memiliki. Wujud raga masjid ini ialah bangunan baru. Malah yang menarik atensi merupakan gedung di dekat masjid itu, suatu bangunan lama yang jadi kantor DPRD Kabupaten Lebak serta gedung di sebelahnya ialah kantor Bupati Lebak yang dahulu sempat ditempati Bupati Lebak kedua Raden Adipati Karta Natanagara. Bupati yang terpanggil Regen Sepoeh oleh warga setempat ini diucap dalam novel Max Havelaar karya Multatuli.

Kala lagi berjalan serta terletak di depan kantor Bupati Lebak, yang sebelumnya cuma gerimis jadi hujan rimbun. Kami lekas berjalan kilat mengarah Alfamart Kapugeran tidak jauh dari tempat itu buat membeli payung sekaligus berteduh. Sayangnya minimarket ini tidak menjual payung. Tidak apalah. Paling tidak kami dapat numpang berteduh sembari menikmati roti serta air mineral di terasnya serta yang barusan dibeli di minimarket itu.

Balong Ranca Lentah

Begitu hujan reda, kami melanjutkan ekspedisi. Tujuannya merupakan Balong Ranca Lentah yang jadi tujuan wisata kesukaan warga Lebak. Dihitung dari Masjid Angkatan laut(AL) A’ raaf, jarak ke balong( kolam) tidak sangat jauh. Cuma 500 m serta hanya perlu 6 menit buat jalur kaki. Di sekitar balong itu ramai orang dagang apabila malam hari. Seperti itu sebabnya Balong Ranca Lentah diketahui bagaikan destinasi wisata kuliner. Sayangnya kami tiba di siang hari. Banyak gerobak santapan kosong di sekitar balong. Cuma terdapat sebagian orang dagang yang dapat kami temui serta itu juga tidak menggugah selera sebab bukan santapan khas Rangkasbitung. Sehabis sejenak menikmati Balong Ranca Lentah, lekas kami melanjutkan ekspedisi ke tujuan selanjutnya. Namun kami luangkan mampir dahulu di minimarket dekat tempat itu buat beli payung. Jaga- jaga jika hujan turun dikala tidak terdapat tempat buat berteduh.

Mencari Sate Bandeng

Kami telah berniat buat senantiasa jalur kaki ke Jln. Jendral Sudirman. Konon di situ terdapat penjual sate bandeng. Balong Ranca Lentah ke sate bandeng yang bernama Bagas serta persisnya terletak di Tanjakan Bangarum, Jln. Jendral Sudirman 33 berjarak 2, 9 kilometer. Kabar dari Google Maps, perlu waktu 35 menit bila jalur kaki. Jika hanya segitu lamanya, sangat ringan buat dijalani. Kami sempat berjalan kaki 3 jam lebih. Serta tidak terdapat permasalahan.

Dengan tanpa terburu- buru kami menyusuri jalur, salah satunya merupakan Jln. Juanda. Terdapat perihal mengherankan untuk kami, ataupun bisa jadi ini kerutinan yang dikira normal untuk masyarakat setempat, yang kami temui kala jalur. Perihal ini sesungguhnya telah kami amati tadinya dikala mulai jalur kaki dari Stasiun Rangkasbitung. Kala melihat mobil yang parkir tidak di tepi jalur, aku cuma berpikir pemiliknya cuma menyudahi sebentar serta tergesa- gesa. Begitu pula dikala memandang motor yang menyudahi agak ke tengah jalur, benak aku masih sama. Tetapi kala perihal itu aku temui kembali apalagi lebih dari sekali, timbul persoalan: Apakah ini kerutinan warga setempat? Apakah sebab jalur tidak begitu ramai sehingga boleh parkir sesukanya? Mudah- mudahan ini cuma kelakuan segelintir, 2 gelintir, 3 gelintir, 4 gelintir… sebagian gelintir oknum saja.

Kesimpulannya Naik Angkot

Dikala jalur kaki menyusuri trotoar, banyak angkot berseliweran menyalip di sebelah kanan kami. Sebagian di antara mereka menawarkan jasa. Kami senantiasa bersikukuh pada tekad kami buat jalur kaki. Sampai terdapat satu angkot yang menyudahi serta bertanya tujuan kami. Waktu itu, kami berdiri di depan kios rokok yang ditunggu seseorang bunda. Sang bunda ini pula bertanya ke mana kami hendak berangkat. Dikala kami bilang hendak ke Jln. Jendral Sudirman buat mencari sate bandeng, bunda itu menyuruh kami naik angkot yang tabah menunggu. Ia setelah itu bilang ke sopir angkot biar kami diturunkan di toko roti di depan gereja. Jarak 2, 9 kilometer yang sebelumnya hendak kami tempuh dengan jalur kaki nyatanya cuma dekat satu kilo yang kami lakukan. Selainnya kami duduk manis di dalam angkot.

Warnanya angkot itu tidak menuju ke Jln. Jendral Sudirman, tetapi ke Jln. Sunan Kalijaga. Serta kami musti mengucapkan terima kasih kepada bunda penghuni kios serta sopir angkot sebab nyatanya sate bandeng Bagas yang di Jln. Jendral Sudirman cumalah rumah penciptaan saja, bukan tempat makan sebagaimana yang kami kira. Pantas saja di Google Maps tidak terdapat gambar warung ataupun restoran ataupun paling tidak bangunan yang menggambarkan tempat makan, cuma sebentuk bangunan bercat biru yang pintunya tertutup serta mirip bengkel.

Ketemu Sate Bandeng

Kami diturunkan di seberang Gereja Bethel Indonesia Jln. Sunan Kalijaga. Toko roti yang disebutkan oleh bunda penjaga kios tidak kami amati di seberang gereja. Yang terdapat cuma toko yang lagi direnovasi. Kami pernah longak- longok sembari berjalan ke arah Pasar Rangkasbitung mencari toko roti yang diartikan. Kesimpulannya yang dicari ketemu. Terdapat toko yang di depannya bergantung banner merah bertuliskan TOKO ROTI corak kuning. Warnanya toko ini ialah pindahan dari toko yang lagi direnovasi yang kami jumpai tadi. Sedangkan pindah ke toko yang saat ini hingga renovasi berakhir yang diperkirakan 6 bulan lagi, begitu kata pemiliknya.

Di toko roti yang bukan cuma jual roti ini kami jumpai sate bandeng. Bukan hanya yang berlabel Bagas, tetapi pula terdapat sate bandeng merk Andy. Sembari melayani kami, owner toko menceritakan. Sate bandeng yang dijual di daerah Rangkasbitung ya 2 merk itu. Produsen sate bandeng Bagas terdapat di Tanjakan Bangarum, Jln. Jendral Sudirman. Yang merk Andy terbuat di Muara, Kampung Jeruk. Bagas ialah nama anak pembuatnya, sebaliknya Andy merupakan nama yang buat. Katanya, lebih banyak yang beli merk Andy sebab rasanya lebih lezat. Dari harga pula lebih mahal, selisih Rp 2. 500. Harga Bagas Rp 15. 000 per tusuk, Andy Rp 17. 500. Buat meyakinkannya, keduanya kami beli. Tetapi buat aku, dua- duanya sama enaknya. Cuma saja sate bandeng Andy teksturnya lebih lembut serta lebih basah( juicy) dan ukurannya lebih panjang sedikit.

Kudapan Khas Rangkasbitung

Tidak hanya sate bandeng, kami pula mencari santapan khas Rangkasbitung. Mengasyikkan kala buruan itu pula terdapat di toko ini. Apalagi penduduk lokal yang kebetulan lagi belanja mempromosikan suatu kue bernama jojorong yang dibuat dari tepung beras serta di dalamnya berisi gula merah( gula Jawa). Katanya kue ini ialah penganan sangat lezat. Aku sepakat. Jojorong sangat lembut di lidah. Manisnya gula merah yang terdapat di dalam menyempurnakan rasa gurih dari tepung beras yang jadi bahan utamanya.

Wisata di Rangkasbitung kurang komplit apabila tidak bawa kembali kopi asli Rangkasbitung. Di samping kopi bubuk asli Rangkasbitung cap Ayam dengan harga Rp 7. 500 per bungkus, kami pula beli roti lokal yang pabriknya kepunyaan toko roti tersebut serta berlokasi di belakangnya. Mereknya Nikmat Sari. Dapat jadi merk itu pula nama dari toko tersebut. Kami menduga begitu sebab kami tidak memandang plang nama yang terpajang di depannya. Di plastik bungkus rotinya, ia memajang no telepon( 0252) 201654. Siapa ketahui Kamu terdapat rencana ingin menghubungi. Dari owner toko roti itu pula kami menemukan data jika di Rangkasbitung tidak terdapat tempat makan yang menjual sate bandeng. Semacam Bagas serta Andy, mereka cuma buat kemudian disetorkan ke pihak lain semacam Toko Roti Nikmat Sari buat menjualnya. Sate bandeng ini tidak tahan lama. Cuma tahan 12 jam di luar kulkas.

Kupat Ketahui Rangkasbitung

Keluar dari toko roti, kami kemudian jalur kaki menyusuri trotoar mengarah stasiun Rangkasbitung. Tetapi tadinya kami menikmati kupat ketahui khas Rangkasbitung yang terdapat di pinggir trotoar Jln. Sunan Kalijaga semata- mata buat mengisi perut. Sebelumnya kami berencana makan siang dikala hingga di sate bandeng Bagas di Jln. Jendral Sudirman, tetapi rencana itu kandas total. Nyatanya yang di Jln. Jendral Sudirman itu cuma rumah penciptaan, bukan warung ataupun restoran. Bumbu kacang yang dituang di atas kupat ketahui ini berasa nikmat, cuma agak asin saja buat lidah aku. Rasanya unik serta berbeda apabila dibanding bumbu kacang yang terdapat di doclang, ketoprak, gado- gado, pula pecel Madiun. Biayanya juga normal, lumayan Rp 10. 000 per jatah.

Waktunya Kembali Wisata di Rangkasbitung

Hingga di Stasiun Rangkasbitung kami tidak lama menunggu sebab CL jurusan Tanah Abang yang berangkat jam 15. 10 Wib telah ada. Datang di Stasiun Tanah Abang jam 17. 00 Wib. Dilanjut CL jurusan Bogor yang berangkat jam 17. 15 Wib. Kereta masuk Stasiun Bogor jam 18. 39 Wib. Purna telah wisata di Rangkasbitung hari ini.

Sangat berkesan satu hari wisata di Rangkasbitung. Cuma saja, kami berencana kembali ke Rangkasbitung. Bisa jadi dalam waktu dekat. Terdapat perihal yang membuat kami penasaran: keberadaan rumah Multatuli!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *