Categories
Uncategorized

Mengintip Prasasti Di Masjid Menara Kudus

Masjid menara Kudus adalah sebuah masjid bersejarah dengan bagian pada atap masjid terbuat dari bahan kayu jati dan ditambahkan pula sebuah drum yang agak besar yang melekat pada salah satu balok kayu di bagian atas atap. Masjid Menara Kudus pada awalnya bukan bangunan masjid ataupun sebuah menara, tetapi lebih ke menyerupai bentuk candi seperti kulkul di Provinsi Bali.


Mengintip Prasasti Di Masjid Menara Kudus

Mempertimbangkan Masjid Agung Suci adalah surga bagi salat Jumat. Setiap pemangku kepentingan mengirimkan 19 wakil untuk menghadiri pawai. Kutipan ini, yang memiliki makna mendalam, adalah di mana air adalah bagian dari ‘strategi misionaris Sunan Kudus,’ tambahnya.

Masjid Menara Kudus sekarang berdiri di atas lahan seluas 7,505 meter persegi. Menara ini tidak terlibat dalam renovasi masjid sekitar abad ke-20 atau pada tahun 1918.

Di dalam menara, ada tangga yang terbuat dari kayu jati yang terlihat kokoh dan berwibawa. Adopsi budaya Jawa-Hindu dapat dilihat di regol dalam bentuk dua lengkungan yang dipasang secara singkat di teras dan di masjid. Salah satu nilai toleransi yang diajarkan Sunan Kudus kepada pengikutnya, yaitu dengan melarang penyembelihan sapi untuk dikonsumsi.

Baca Juga: Jasa Pasang Kubah Masjid Profesional Di Jawa Tengah

Masjid Menara Kudus sendiri dibangun oleh Jafar Sodiq, juga dikenal sebagai Sunan Kudus. Sunan Kudus sendiri adalah seorang penyebar ajaran Islam di wilayah Kudus dan sekitarnya. Dikatakan bahwa Sunan Kudus membangun menara hanya dengan menggosok batu sampai lengket.

Menurut sejarawan, karena bangunan ini disesuaikan dengan ajaran Islam yang melarang keberadaan gambar makhluk hidup. Masjid Menara Kudus memiliki lima pintu di sebelah kanan dan lima pintu di sebelah kiri. Pintu besar memiliki lima bagian dan ada delapan pilar besar di masjid yang terbuat dari kayu jati. Di masjid ada pemandian masjid, kolam renang yang disebut padasan adalah peninggalan kuno dan digunakan sebagai tempat mencuci. Menurut prasasti Arab pada mihrab, itu menunjukkan bahwa masjid dibangun pada 956 H atau 1549 Masehi.

Sunan Kudus menikah dengan Dewi Rukhil, putri R. Makdum Ibrahim, Kanjeng Sunan Bonan di Tuban. R.Makdum Ibrahim adalah putra R.Rachmad (Sunan Ampel) putra Maulana Ibrahim.

[Murianews-Anggara Jiwandhana] Petugas Hubungan Masyarakat Yayasan Masjid dan makam Sunan Kudus Denny Nur Hakim lebih suka menyebut tanda itu sebagai prasasti. Penghargaan lain memanifestasikan dirinya dalam bentuk menara masjid bergaya Hindu. Menurut sejarah, Masjid Suci dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 956 H. Hal ini dibuktikan dengan batu tulis di Imperminasi masjid, yang ditulis dan dibentuk dalam bahasa Arab, yang sulit dibaca karena banyak surat telah rusak. Batu itu terlindung dan ukuran perisai itu 46 cm, lebar 30 cm.

Dalam berkhotbah, Sunan Kudus lebih menekankan pada kearifan lokal dengan menghargai budaya lokal dan berusaha untuk beradaptasi dengan masa kejayaan Buddha Hindu. 

Karakteristik ini adalah keunikan Masjid Menara Kudus. Menara ini memiliki struktur bata merah yang terlihat seperti bangunan candi khas di Jawa Timur. Beberapa bahkan menyebut menara ini mirip dengan Bale Kulkul atau bangunan penyimpanan Kentongan di Bali. Perayaan Masjid Al-Aqsa hadir untuk mengkonfirmasi kebijaksanaan Menara Suci untuk perdamaian multi-etnis, multi-agama dengan kebijaksanaan masing-masing.

Karena terletak di pusat kota Kudus, hanya 5 menit dari alun-alun kota Kudus, masjid ini dikelilingi oleh populasi perumahan yang agak padat. Dengan demikian, keindahan kompleks bangunan Masjid Menara Kudus, yang sekarang terdaftar sebagai salah satu warisan budaya, berkurang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *